MUARA PUNING
Waktu serasa melambat di Muara Puning. Pelipatan ruang ala realitas hyper tidak terasa di sini. Semuanya berjalan biasa saja, tidak cepat, tidak terburu-buru. Tak ada penumpukan kendaran di jalan, di lift dan riuh pikuk jaringan internet. Kampung ini, sekitar 30 tahun lalu hanya memiliki tiga rumah. Di sebut rumah jika bangunan itu dididirikan di darat. Sementara rumah apung di sungai adalah lanting. Kini, Muara Puning jauh lebih ramai. Telah berstatus dusun untuk Desa Teluk Timbau dalam waktu sekian lama. Semestinya telah layak meningkat statusnya jadi desa juga. Syarat jumlah kepala keluarga dan rumah telah cukup, seandainya aturan jumlah ini tidak senantiasa berubah. Seperti itu menurut Risno, salah seorang kepala RT di sini. Matahari mulai beranjak ke barat ketika kami selesai menunaikan ibadah Jumatan. Sebelumnya saya sempat heran, masyarakat Dayak penghuni kampung ini semuanya muslim. Sesuatu yang baru saya dapatkan. Biasanya orang Dayak yang saya temui di Kalimantan Timur dan Ba...