MUARA PUNING
Waktu serasa melambat di Muara Puning. Pelipatan ruang ala realitas hyper tidak terasa di sini. Semuanya berjalan biasa saja, tidak cepat, tidak terburu-buru. Tak ada penumpukan kendaran di jalan, di lift dan riuh pikuk jaringan internet.
Kampung ini, sekitar 30 tahun lalu hanya memiliki tiga rumah. Di sebut rumah jika bangunan itu dididirikan di darat. Sementara rumah apung di sungai adalah lanting. Kini, Muara Puning jauh lebih ramai. Telah berstatus dusun untuk Desa Teluk Timbau dalam waktu sekian lama. Semestinya telah layak meningkat statusnya jadi desa juga. Syarat jumlah kepala keluarga dan rumah telah cukup, seandainya aturan jumlah ini tidak senantiasa berubah. Seperti itu menurut Risno, salah seorang kepala RT di sini.
Matahari mulai beranjak ke barat ketika kami selesai menunaikan ibadah Jumatan. Sebelumnya saya sempat heran, masyarakat Dayak penghuni kampung ini semuanya muslim. Sesuatu yang baru saya dapatkan. Biasanya orang Dayak yang saya temui di Kalimantan Timur dan Barat tidak beragama Islam. Saya kira, peran syiar Islam Imam Guru Sekumpul Al Banjari silam adalah salah satu latar belakangnya.
Risno, mengundang kami makan siang di lantingnya. Dia memiliki rumah besar di darat, tempat kami temu kenal dengan masyarakat kampung beberapa jam sebelumnya. Rumah itu sepi sekarang, keluarga Risno lebih banyak menghabiskan waktu di lanting. Istrinya berjualan di lanting itu, semacam kios terapung. Suci, anak gadis kecilnya turut membantu ibunya.
Mewah rasanya bersantap siang di lanting Pak Risno. Lauk ikan air tawar segar terasa gurih, nikmat tak ada duanya. Entah ini ikan tapa atau papuyu, yang saya tahu ini nikmat sekali. Sesekali lanting bergoyang dibuai gelombang sungai beriak dideru perahu-perahu yang melintas cepat. Keadaan seperti ini saya anggap mewah, sebab akan sangat sulit mendapatinya, pun untuk saya mengulanginya.
Beberapa saat kemudian, setelah menyusur sungai ke arah hulu kami kemudian berjalan membelah hutan dan padang savana. Perjalanan darat menjadi lebih sulit ketika kami harus melewati rawa penuh semak belukar. Kami menuju beje Pak Risno. Beje adalah semacam kolam ikan yang panjangnya bisa mencapai 30 meter dengan lebar dua sampai tiga meter dan dalamnya satu hingga dua meter.
Sejatinya, beje adalah perangkap ikan saat musim hujan datang menggenangi daratan daerah aliran sungai. Ketika air surut, ikan akan terjebak di dalamnya. Sistem ekologinya mirip dengan model tambak silvofishery. Di hamparan luas ini, ada banyak beje. Risno pernah memanen hingga delapan ton ikan air tawar dari lima beje miliknya. Bukan hanya Risno yang memiliki beje di areal ini, banyak orang sekampungnya juga punya beje.
Pelajaran sangat baik saya peroleh dari Masyarakat Muara Puning. Melalui beje saya menyaksikan bagaimana mereka mengelola sumberdaya alam disekitarnya secara cerdas. Semoga mereka bisa bertahan seperti itu, sebelum gelombang digital menjadikan waktu berlipat-lipat cepat berlalu.


Comments
Post a Comment