BERKENALAN DENGAN SUNGAI BARITO


Suatu waktu di pertengahan Oktober. Menjelang musim hujan dengan sisa kemarau yang panas, saya tiba-tiba melabuh di tepian Barito Selatan. Perjalanan ke tempat baru selalu menyenangkan. Apalagi jika berjalan sambil meraba-raba, semuanya seperti kejutan.

Penerbangan ke Palangkaraya terasa singkat saja dari Jakarta. Hanya dua jam di pesawat. Demikian juga ke Buntok ini, terasa tidak terlalu lama menurutku meski lewat jalur darat.

Tak ada informasi berarti saya dapatkan dari pertemuan di Cikini kemarin. Saya hanya diberi tahu besok ke Kalimantan Tengah, ke Desa Teluk Timbau. Itu entah di mana. Saya persiapkan saja segala sesuatu yang ditugaskan.

Tiba di Barito Selatan ini seperti kejutan. Semuanya tampak menarik. Iya kan, pertama kali ke sini, dan minim informasi. Segalanya jadi terasa baru. Walaupun saya faham, berbicara Kalimantan, sedikit banyak akan bersentuhan dengan sungai-sungai luas. Seperti Kapuas, Mahakam dan Barito ini.

Buntok adalah Ibukota Kabupaten Barito Selatan. Dari sini kami mengarungi sungai ke pedalaman Kalimantan Tengah. Bersama tim, kami menumpang perahu cepat reguler menuju Desa Teluk Timbau di Kecamatan Dusun Hilir.

Ada banyak hal saya perhatikan sepanjang sungai. Dua di antaranya memberi kesan mendalam. Bahwa pemukiman sepanjang Tepian Barito sangat ramai. Oleh bangunan bertingkat-tingkat untuk sarang burung walet.


Nampaknya, sarang walet jadi komoditas utama masyarakat sebab bangunan sarangnya sangat banyak, di sepanjang tepian sungai. Saya bahkan tak lelahnya membaca setiap nama yang dicat besar-besar di bangunan-bangunan itu. Mungkin nama pemilik bangunan, atau juga nama anaknya. Ada juga yang melukis huruf saja, L.A., merek dagang rokok itu.

Yang kedua, tidak selamanya melayari sungai yang tenang terasa seperti jalan tol. Perahu cepat yang kami tumpangi selincah mungkin menghindari banyaknya lubang jalan berupa kayu gelondongan dan ranting-ranting terbawa arus. Sekali dua kali, perahu seperti melompat dan jatuh menghempas ke permukaan air saat gagal menghindari lubang-lubang jalan itu.

Mengenai sarang walet, saya belum menaruh perhatian lebih. Mungkin pada kesempatan selanjutnya. Mungkin saja komoditas ekonomi ini lebih dari itu, mungkin saja.


Lain halnya dengan lobang-lobang jalan di Sungai Barito. Saya merefleksi pengamatan sekilas ini tentang bagaimana sungai dimanfaatkan. Ada triliunan rupiah dialirkan di sungai ini setiap hari. Berupa hasil hutan, pertanian, perikanan dan pertambangan utamanya batu-bara. Transportasi dan perdagangan termasuk di dalamnya.

Besarnya manfaat sungai ini sekaligus jadi panggung ekologis yang menarik. Sungai ini menampung segala artefak kebudayaan manusia di sekitarnya. Baik pemanfaatan untuk kesejahteraan hingga persoalan buang hajat.

Pokok-pokok dan ranting-ranting pohon terbawa arus tidak bermakna sebegitu saja, ada proses deforestasi yang terus berlangsung di Kalimantan, dan buangannya akan mengambang di sungai. Limbah manusia, rumah tangga, hingga perusahaan kemungkinan juga akan berakhir di sungai.



Kekayaan alam, termasuk sungai niscaya memiliki keterbatasan. Pemanfaatan sungai penting untuk memperhatikan soal keberlanjutannya. Sungai Citarum yang fenomenal itu, sebagai sungai paling kotor di dunia bisa jadi bukan yang terakhir di Indonesia. Semoga kita tidak jatuh pada "lubang" sungai yang sama.

Comments

Popular posts from this blog

MUARA PUNING